FILM & PERJALANANNYA : PERAHU KERTAS

Film yang digarap oleh sutradara Hanung Bramantyo ini mengangkat kisah dari novel karya Dewi Lestari atau akrab disapa Dee oleh pembaca. Saat ini usianya hampir delapan tahun. Tepat pada tanggal 16 Agustus 2020 nanti menjadi sewindu perayaan berlayarnya perahu kertas di layar pemirsa setiannya. Kali ini bukan ingin membuat review dari film ini, karena kalau bilang review sudah banyak sekali ditulis dan dirilis.

Mungkin lebih tepat berbagi dan memberikan sudut pandang bagaimana film ini akhirnya menjadi film terfavorit sepanjang ia berlayar untuk pertama sampai detik ini, hari keduabelas pada bulan pertama di tahun duapuluhduapuluh. Salah satu yang membuat saya tertriger untuk menonton film ini adalah saat melihat teman-teman saya mampu mewujudkan impian untuk merantau, merasakan tempat-tempat untuk transit seperti stasiun, bandara, dan terminal. Mereka bisa merasakan definisi rindu kampung halaman sesuai dengan kesepakatan masyarakat umum. Mengerti bagaimana definisi rumah, kembali bertemu dengan apa yang di rindukan. Sedangkan manusia ini masih dipercaya menetap di kota kelahirannya bahkan sampai seperlima abad lebih satu tahun usianya.

Bertemu perahu kertas pertama kali cuma bilang suka, dan mau nonton part kedua, WAJIB!
Kalau nggak salah nonton perahu kertas ini nonton di Grand Mall sama temen SMP yang sekarang sedang berjuang menempuh pendidikan menjadi seorang dokter gigi di kota perantauan, lagi-lagi diperantauan. Saya cuman merasa suka dan mencoba mendalami cerita Kugy dan Keenan ini versi buku dan filmnya. Tapi rasanya masih jauh dari kata relate. Ya masih putih biru, mau berharap apa tentang merantau, punya mimpi jadi pendongeng, ngajar sekolah di kampung-kampung, punya gebetan (meskipun saat itu hmmm), berani bicara perkara mimpi dsb. Tapi setelah delapan tahun rasanya cukup membuat sedikit menghembuskan nafas.

Karena yang suka dan ingin menjadi Kugy bukan cuman saya, bahkan saya secara fisik gak bisa dikatakan mirip. Lebih karena outfit saya, tapi untuk jiwa ya, adalah yang mirip-mirip tapi dengan versi yang lebih kekinian, tidak merantau dan punya keunikan tersendiri juga. Kemudian dalam menjalani proses persahabatan yang ada berantemnya, jauh karena ada yang merantau dan punya kesibukan masing-masing. Intinya setelah delapan tahun itu beberapa proses dalam film ini menjadi relate dan Perahu Kertas tidak pernah usang untuk menjadi rujukan.

Waktu nonton part kedua, dimana semua sudah lebih dewasa dan memasuki dunia kerja. Ada banyak pertanyaan yang timbul, ada beberapa hal yang ingin dituliskan, dan banyak hal yang meminta diulik. Bukan sekedar filmnya secara general tapi lebih detail lagi. Entah ini menjadi aneh atau merendahkan selera tapi kalau diberi pertanyaan film Indonesia apa yang bagus menurut saya? jawabanya PERAHU KERTAS.

Komentar

Postingan Populer