Cerita Ruang Refleksi Mantramantra Kunto Aji
Hari dimana karya dari Mas Kun (panggilan akrab Kunto Aji) akan di rilis. Antusiasme penikmat musik tanah air cukup tinggi menantikan albumnya kali ini. Termasuk aku sendiri yang menunggu sampai pukul 00.00 WIB. Tapi entah kenapa saat itu album Mas Kun tak kunjung muncul di aplikasi pemutar musik. Akhirnya karena mata sudah tidak lagi kuatkelopak ini terpejam, tidur.
Esok harinya aku langsung cek lagi sudah munculkah album tersebut. Ketika mata menangkap kotak berwarna oranye dan list mantra terdaftar nyata, aku mulai memainkan dari Sulung.
Pertama kali mendengar Sulung rasanya seperti dipersilakan masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki jalan panjang, lambat laun suara piano dan gitar terdengar. Kemudian sebelum akhirnya sampai pada tujuan diingatkan,
"Cukupkanlah ikatanmu
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu"
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu"
Aku seperti diminta untuk mempersiapkan diri pada sebuah perjalanan. Melepas dan bersiap dalam satu waktu. Aku melangkah masuk kemudian langsung diajak me-Rancang Rencana. Seperti pada proses perencanaan aku diminta untuk lebih berhati-hati dan jangan terburu-buru memutuskan impian dan ambisi. Berusaha untuk menyimpan rencana dan mengingatnya baik-baik supaya tidak kemana-mana dalam proses meraih nya nanti.
"Dalam ku ingat
Suara terdengar
Jangan berubah
Jangan berubah
Kau yang ku kenal"
Sebelum melangkah lebih jauh, ada rasa Pilu Membiru yang menyapa. Seolah ada hal lalu yang belum selesai datang mengingatkan, tentang kenangan. Persoalan lalu yang belum tuntas dan aku tinggalkan waktu itu. Semacam ditahan sebentar untuk beberapa waktu.
"Walau kita tak lagi menyapa
Akhirnya aku lihat lagi
Akhirnya aku temui lagi
Tercekik lidahku
Masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu
Masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu"
Kemudian muncul dalam ingatan ketika pernah aku bertanya pada seseorang tentang bagaimana hubungan ini akan terjalin. Sebab memang dalam mencari teman hidup banyak hal yang ditemui, sebagian besar adalah ketidakpastian kemudian menimbulkan rasa takut, cemas dan khawatir. Butuh komitmen dan rasa percaya. Dalam Topik Semalam mengingatkan bahwa dia yang kelihatannya diam sebenarnya tengah memantapkan diri dan merencanakan yang terbaik untuk teman hidupnya nanti.
Kau jangan takut aku punya rencana
Kau jangan takut walau semua masih di kepala
Jika kau mau bersabar dan mencoba kau mengerti
Ku pastikan kau bahagia
Jika kau bisa bertahan menunggu ku disini
Ku pastikan kau bahagia
Mungkin kini aku dan dia tidak di waktu dan tempat yang sama tapi sedikit mendapat kelegaan tentang pembahasan dalam topik semalam. Menyadarkan aku untuk Rehat sejenak. Tidak perlulah terlalu memikirkan semua ini dengan begitu berat. Hidup di dunia ini sudah diatur, percaya saja kepada Yang Maha Hidup. Yang jelas kita hanya perlu untuk terus menjalaninya.
Tenangkan hati
Semua ini bukan salahmu
Terus berlari
Yang kau takutkan takkan terjadi.
Setelah semua membaik dan siap berjalan lagi. Pelan-pelan realita menyadarkan kembali. Muncul gambaran tentang hirukpikuk ibu kota Jakarta Jakarta. Semakin jauh melangkah dan bertambah usia perlulah membentuk siapa diri kita.
Jakarta Jakarta
dan kenalannya
berpacu
memburu impianku
sekeras-kerasnya
benturkan bentuklah dirimu.
Meskipun keras dan tak pernah mati disana aku sadar tetap merasa sepi sebab semuanya berinteraksi dengan masing-masing. Apalagi pernah ada yang berpesan, Konon Katanya memang dalam kerasnya ibu kota masih banyak yang terjebak dalam nasihat ayah dan ibundanya. Tentang impian emas pada zamannya tapi tidak lagi sesuai dengan keadaan apalagi kata hati. Seperti terpenjara stereotip orang tua.
Kau tak pernah berubah
Kau masih saja dengan peran yang kau tak suka
Apa kata ayah
Jadi pembatas ruang gerakmu berkarya
Tidak terasa langkah ku sudah jauh dalam menelusuri ruang. Cahaya terang samar-samar tertangkap alat indra, mataku. Dari tadi aku terombang-ambing memikirkan masa depan dengan ketidakpastian, bertemu masa lalu yang menuntut diselesaikan dan terakhir sadar jika aku belum mati, masih hidup sedang menjelajah ruang. Dimana sebenarnya kamu? ku bertanya pada diri sendiri untuk memanggil aku kembali, Saudade. Sebelumnya aku akan berdamai,
Biarlah aku dikutuk dan engkau yang dirayakan
Perjalanan takdir dan kenangan
Berselimut doa
Hangat yang terjaga
Ada menemanimu
Sampai dihapuslah kita
Harapku pada kamu,
Serap serap yang baik untukmu
Disana berdirilah engkau
Dengan senyuman dan kepingan harapan
Di belakang tempatmu bersandar
Tanganku terbuka
Kapanpun kau ingat pulang
Selalu ada menemanimu
Dan kami kembali bersatu dalam satu raga. Aku berjalan keluar, namun sebelum benar keluar aku menengok sebentar ke belakang untuk melihat hal yang tidak perlu bagiku dan benar-benar merelakannya. Bungsu menanti dijalan keluar, menepuk pundak seraya berkata,
Sebelum kau menjaga
Merawat melindungi segala yang berarti
Yang sebaiknya kau jaga
Adalah dirimu sendiri
Pintu tertutup dan aku sadar dari tadi diam hanyut oleh Mantra mantra Kunto Aji.
---
Lanjut : Opini Ruang Refleksi untuk Pemikir
Lanjut : Opini Ruang Refleksi untuk Pemikir

Komentar
Posting Komentar