TURUN PANGGUNG

Aku tidak tau kenapa akhir ini kesedihan menjadi hal yang sering kali dieksploitasi.
Rasa kecewa yang dibuka-buka menganga sampai akhirnya luka-luka manusia terjajar dan harumnya jadi biasa saja.
Meskipun kesedihan ini banyak diumbar tapi efeknya tidak pernah sama untuk satu dengan lainnya. Jika sudah menentang begini hendak berteriak kencangpun rasanya tidak pernah cukup.
Sebab arus kesedihan dimana-mana, arus yang mengajarkan untuk menerima dan ikhlas menjadi laris jadi obrolan manusia-manusia.
Berteriak jadi seolah tabu dan dianggap lucu.
Dicemooh karena terlalu rendahan untuk dilakukan.
Marah menjadi tidak lagi laku.
Dia turun panggung.

Apa mereka lupa kalau dulu teriak pernah menjadi begitu berjasa dalam menyalurkan sebuah rasa?
Saat air mata bukan lagi obat
Nafas belum dipercaya menyembuhkan
Lantas senyum amat dibenci untuk menjadi ungkapan
Cuma teriakan yang mau berlapang dilepaskan
Dihempaskan dari ketinggian
Dalam kegelapan
Dibungkam dalam ruang sendiri

Lalu ketika pergi
Kamu sembuh
Tidak ada kata terimakasih.

Komentar